Kamis, 14 Februari 2013

Hari yang Indah

Pagi yang cerah. Lagi, lagi, dan lagi. Jepret sana sini. Indahnya bila bisa mentadabburi semesta-Nya.
Tengoklah, kupu-kupu yang menghisap sari bunga itu. Mereka tampak serasi. Meski kupu-kupu itu tidak selalu berhasil membuat mawar menghasilkan biji, tapi keberadaannya membuat kuntum mawar itu jadi semakin indah. Benar-benar eksotis.
Ya Allah, dipagi ini aku dalam keadaan beriman kepada-Mu. Maha Suci Engkau dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. ^_^
Dan lihatlah burung-burung yang beterbangan itu.
Mereka tidak pernah berhenti terbang, sampai
sayapnya tak mampu lagi mengepak. Ia bebas
terbang kemanapun ia mau. Menjelajah bumi
Allah, melihat sawah dan segala panorama
diatasnya yang memesona.
Sungguh maha karya dahsyat, yang hanya mampu
direka oleh Dzat Yang Maha Dahsyat.
Bertasbihlah segala yang ada dimuka bumi dan
semesta raya memuji keagungan-Nya.

Capung jarum itu. Mereka tak takut kalau-kalau air yang berriak itu menelannya. Bukan karena mereka sok berani, tapi karena mereka tau, tak ada yang berhak ditakuti selain Allah. Dan ketakutan kita kepada Allah bukan karena ketakutan sebagai pendosa. Tapi mereka takut kepada Allah dengan segenap cinta, dengan sepenuh kesadaran.
Dialah Dzat yang maha menggenggam nyawa, Dzat yang maha Menguasai.


First Time On Air



Penyiar Radio ^_^
17 Desember 2012
Akan selalu ada kisah baru disetiap detik perjalanan waktu. Kisah hari ini, adalah tentang first experience on air di radio. Hehe. Mungkin bagi orang lain biasa aja. Tapi bagiku, itu adalah hal yang menakjubkan. Bagaimana sebelumnya aku mengagumi seorang penyiar –radio maupun tv-.  Dan hari ini aku berkesempatan mengisi acara TOA-Tausiyah On Air-  KAMMI di Metropolis.

Sempet gugup. Bagaimana harus berbicara dibalik layar yang suaranya didengar seantero metro bahkan mungkin sejagad lampung. Ditambah lagi penguasaan yang kurang sama materinya. Gimana enggak, materinya aja baru dapet jam 3 sore tadi. Baru di print jam 5, belum dibaca, tau-tau udah diminta nyampein. Urghh, pasti banyak salahnya.

Bareng ukh ida, ngacir dari adzkiya sepulang jalsah. Menembus rintik yang melebat, dan jalanan yang licin. Sampai disana, “Assalamu’alaikum...” gk ada jawaban. Udah mulai pesimis. Jangan kata gk jadi. ^o^
Alhamdulillah, ternyata jadi. Dengan dag dig dug duenggg, masuk ruang siaran. Kaos kaki yang kuyup, dalam ruangan ber-AC, plus nervous yang tiada tanding. Jadi serasa masuk kulkas. Brrr. Tik tok tik tok. Jarum jam terus berputar. 25 menit terlalui dengan perasaan tak menentu. 5 menit terakhir, ku perbaiki posisi nervousku, menekannya dititik terrendah.

30 menit berlalu. Duenggg. Time over.

Aku melepas headphone, lalu beranjak keluar ruangan bareng ukh ida yang setia menemaniku sejak awal. Hehe, besok dia juga kebagian. Hmhh...plong banget rasanya. Kya’ ada tumpukan batu yang mencair gitu. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Tadi aku gk ngrekam plus gk ngambil foto. (><). Makanya aku gk bisa kasih liat suasana disana.

Once time, kamu musti menyaksikan n ngerasain sendiri. Biar kamu juga tau gimana suasana distudio n gmana rasanya siaran itu. ^_^

Proud Of Islam -_^

Paham Liberalisme

Perkembangan dunia membawa perubahan yang signifikan di berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang ekonomi, perubahan ini menyebabkan munculnya berbagai aliran paham yang masing-masing memiliki pandangan yang berbeda mengenai ekonomi. Salah satu paham yang sempat eksis dalam kancah ekonomi global yaitu Paham Liberalisme.

Pada saat boediono dilantik menjadi wakil presiden RI, banyak gelombang protes yang dilakukan oleh masyarakat  Indonesia , terutama para mahassiwa yang telah memberikan cap tokoh liberalis kepada Boediono. Ketakutan masyarakat atau mahassiwa dalam menolak liberal bukan tanpa alasan, tetapi  belajar dari kasus krisis ekonomi 1997  yang melanda sektor moneter indonesia, momentum ini yang dimanfaatkan oleh IMF untuk mencengkramkan paham liberalis dalam semua sektor di Indonesia dengan dalil untuk dapat keluar dari krisis moneter ini. Ternyata apa yang terjadi..? bukan obat yang diberikan oleh IMF tapi racun yang hebat bersimbol “liberal” semkin meluluh-lantahkan perekonomian Indonesia.

Menurut Ekonom The Indonesia Intellegence (EII) Sunarsip, sebagaimana Dimuat harian Repulika, (Rubrik Analisis, Senin, 8 Juni 2009) mengatakan “ Konsep neoliberalisme sejatinya jarang ditemukan di buku-buku teks ekonomi. Neoliberalisme adalah stigma yang diberikan sejumlah ekonom (biasanya penganut anti liberalisasi) terhadap doktrin yang tertuang dalam Konsensus Washington ( Washington Concensus ). Karena stigma ini diberikan secara sepihak, konsep neoliberal ini tidak diakui sebagai teori ekonomi yang universal. Sehingga, tidak mengherankan, bila hingga kini muncul pro dan kontra terhadap neoliberalisme ini”.
Ada 10 element kebijakan Washington Consesus : Disiplin fiskal, Deregulasi Pengeluaran publik untuk kesehatan, pendidikan dan infrastruktur, Liberalisasi perdagangan, Reformasi pajak,  Privatisasi, Nilai tukar yang kompetitif, Pembukaan akses terhadap PMA, Jaminan hak kepemilikan, Liberalisasi sektor keuangan.( Williamson, dalam Rodrik, 1996:17)

Dari paket kebijakan Konsensus Washington tersebut terlihat warna dominan perekonomian diarahkan kepada minimalitas peran negara untuk digantikan pasar.

Konspirasi Ekonomi GLobal

Kata konspirasi menjadi trend yang sangat populer dimedia-media saat ini, terutama ketika presiden PKS yang baru anis mata mengatakan “ kita sekarang sedang melawan konspirasi yang sistematis’ atas dugaan suap kuota impor sapi yang diterima oleh mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishak. Memang konspirasi tidak bisa dibuktikan tetapi bisa dirasakan, ungkap anis mata dalam dialog di stasin TV swasta. Entah mana yang benar dan mana yang batil, Waalahu alam Bishawab

Dalam tulisn ini saya tidak  berminat membahas polemik dunia politik yang semakin keruh di negara kita, semaki dibahas akan semakin berkeruh, dan semakin tak jelas arahanya. alangkah baiknya jika dalam diskusi dalam tulisan ini, kita selewengkan saja untuk membahas konspirasi ekonomi global. Kita tahu, bahwasanya kekuatan konomi dunia dipegang penuh oleh negara-negara yang memegang prinsip sistem kapitalis, kalau kita mengaca pada sejarah bahwasanya paham Kapitalisme berasal dari Inggris sekitar  abad 18, kemudian menyebar ke Eropa Barat dan Amerika Utara.  Sebagai akibat dari perlawanan terhadap ajaran gereja, tumbuh aliran pemikiran liberalisme di negara Eropa Barat. Aliran ini kemudian merambah ke segala bidang termasuk bidang ekonomi. Dasar filosofis pemikiran ekonomi Kapitalis bersumber dari tulisan Adam Smith dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations yang ditulis pada tahun 1776.  Isi buku tersebut sarat dengan pemikiran tingkah laku ekonomi masyarakat, yang kemudian menjadi sistem ekonomi, dan mengakar menjadi ideologi yang mencerminkan  gaya hidup (way of life).

Selasa, 29 Januari 2013

Ku Pergi


Aku ingin berlari
Lari dari kehidupan, lari dari kesemuan, lari dari kefanaan.
Tapi kemana aku harus berlari
Bumi enggan mengejarku lagi
Ia berdiri tegak dihadapanku, kokoh menantang diujung jalan
Lalu, apakah aku harus kembali?
Jalan itu, disetiap langkahku, tertutup lagi dan lagi hingga tiada celah untuk kembali
Inilah jalanku
Aku berbeda, aku istimewa, aku bukan pelakon sandiwara
Aku apa adanya
Tak suka dengan retorika, tak tertarik dengan aturan
Aku merdeka, jiwaku rindu merdeka
Tapi dimana kemerdekaan itu?
Apakah ia juga merindukanku?
Tepian jurang yang membentang dihadapanku. Lembah menanti dan gunung menunggu didaki
Dengan apa aku lewati sekeping maut ini?
Kasihku, tunjukkan kuasa-Mu
Kau yang menguasai kerajaan semesta
Kau jua yang menciptakan jurang ini
Seberangkan aku
Seberangkan aku
Seberangkan aku ke tanah abadi-Mu
Temui aku dalam damai, dan dalam keabadian

malam tahun baru

1 Januari dianggap sebagai hari yang 'keramat' bagi sebagian besar penduduk dunia. Padahal jika ditinjau dari sejarahnya, tak hal-hal ada yang dijadikan sebab untuk meng'kramatkan' 1 Januari. Namun apapun kondisi dluar sana, tahun ini aku bahagia. Memulai awal tahun dengan sesuatu yang jauh dari kesia-siaan(insayAllah).
Disaat yang lain menghamburkan uang untuk membeli petasan dan kembang api untuk memeriahkan penyambutan hari 'Keramat', aku dan saudara-saudaraku menyisihkan uang untuk