Kamis, 14 Februari 2013

Paham Liberalisme

Perkembangan dunia membawa perubahan yang signifikan di berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang ekonomi, perubahan ini menyebabkan munculnya berbagai aliran paham yang masing-masing memiliki pandangan yang berbeda mengenai ekonomi. Salah satu paham yang sempat eksis dalam kancah ekonomi global yaitu Paham Liberalisme.

Pada saat boediono dilantik menjadi wakil presiden RI, banyak gelombang protes yang dilakukan oleh masyarakat  Indonesia , terutama para mahassiwa yang telah memberikan cap tokoh liberalis kepada Boediono. Ketakutan masyarakat atau mahassiwa dalam menolak liberal bukan tanpa alasan, tetapi  belajar dari kasus krisis ekonomi 1997  yang melanda sektor moneter indonesia, momentum ini yang dimanfaatkan oleh IMF untuk mencengkramkan paham liberalis dalam semua sektor di Indonesia dengan dalil untuk dapat keluar dari krisis moneter ini. Ternyata apa yang terjadi..? bukan obat yang diberikan oleh IMF tapi racun yang hebat bersimbol “liberal” semkin meluluh-lantahkan perekonomian Indonesia.

Menurut Ekonom The Indonesia Intellegence (EII) Sunarsip, sebagaimana Dimuat harian Repulika, (Rubrik Analisis, Senin, 8 Juni 2009) mengatakan “ Konsep neoliberalisme sejatinya jarang ditemukan di buku-buku teks ekonomi. Neoliberalisme adalah stigma yang diberikan sejumlah ekonom (biasanya penganut anti liberalisasi) terhadap doktrin yang tertuang dalam Konsensus Washington ( Washington Concensus ). Karena stigma ini diberikan secara sepihak, konsep neoliberal ini tidak diakui sebagai teori ekonomi yang universal. Sehingga, tidak mengherankan, bila hingga kini muncul pro dan kontra terhadap neoliberalisme ini”.
Ada 10 element kebijakan Washington Consesus : Disiplin fiskal, Deregulasi Pengeluaran publik untuk kesehatan, pendidikan dan infrastruktur, Liberalisasi perdagangan, Reformasi pajak,  Privatisasi, Nilai tukar yang kompetitif, Pembukaan akses terhadap PMA, Jaminan hak kepemilikan, Liberalisasi sektor keuangan.( Williamson, dalam Rodrik, 1996:17)

Dari paket kebijakan Konsensus Washington tersebut terlihat warna dominan perekonomian diarahkan kepada minimalitas peran negara untuk digantikan pasar.
Kebijakan deregulasi, misalnya, ditujukan untuk memberi ruang bagi kegiatan ekonomi secara lebih leluasa dengan menghilangkan banyak peraturan yang justru ditengarai disinsentif bagi pertumbuhan investasi. Kebijakan deregulasi ini diperkuat dengan kebijakan liberalisasi, baik di sektor keuangan maupun perdagangan, sehingga semakin merangsang bagi pelaku ekonomi untuk semakin memacu aktivitasnya. Sedangkan kebijakan privatisasi dan penanaman modal asing (PMA) memiliki peran ganda, di samping menggerus peran negara dalam perekonomian juga dimaksudkan untuk mengikis praktik sektor riil yang selama ini sangat tidak sehat, distortif, dan terkonsentrasi. Akhirnya, kepastian aturan tentang hak kepemilikan (property right) merupakan keniscayaan apabila tujuan yang diinginkan adalah terdapatnya kepastian berusaha bagi setiap pelaku ekonomi, baik domestik maupun asing.( Ahmad Erani Yustika: 2004: 14)

Disini sangat jelas bahwa Paham liberalis merupakan produk dari doktrin The washington Consesus,  sebuah doktrin konspirasi amerika dan antek-anteknya dalam mempertahankan dan mencari keuntungan bagi negaranya. Dengan adanya liberalisme maka amerika dengan leluasanya bisa mengekploitasi sumber-sumber kekayaan negara lain. Melalui pemanfaatan kebijakan lembaga-lembaga internasional. sungguh luar biadab.

1.    Isu teroris
 Menurut wikipedia, Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Saya rasa definisi teroris itu sangat bias, siapa yang menjadi target dan siapa pelakunya tidak jelas. Dan arahanya kemana..? itu yang menjadi pertanyaan kita selama ini. Walaupun istilah teroris itu muncul dari tragedi 11 september 2011 yang menimpa gedung WTC (Word Trade Centre). Maka dengan tegas amerika mengatakan itu serangan teroris yang dilakukan oleh al-qaidah. Maka dengan dengan kekuatan militernya amerika membalas dengan menyerang afghanistan sebagai simbol al-qaidah. Dan selama ini istilah teroris ditujukan kepada umat islam.
Mungkin anda mulai bingung, apa hubungannya antara konspirasi ekonomi dengan isu teroris.? Sama, saya jg bingung .  Tp karena terlanjur saya tulis. Malu untuk menghapusnya..Hehe.


Ok.. masih ingatkan kawan2 di tahun 2003-an muncul dokumen RAND Corporation berjudul:“CIVIL DEMOCRATIC ISLAM: Partners, Resources and Strategies”. RAND Corp adalah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS). Sebelumnya ia perusahaan bidang kedirgantaraan dan persenjataan Douglas Aircraft Company di Santa Monica-California, namun entah kenapa beralih menjadi think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer. Garis besar dokumen Rand berisi kebijakan AS dan sekutu di Dunia Islam. Inti hajatannya adalah mempeta-kekuatan(MAPPING), sekaligus memecah-belah dan merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam melalui berbagai (kemasan) pola, program bantuan, termasuk berkedok capacity building dan lainnya. Sedang dokumen lain senada, terbit Desember tahun 2004 dibuat oleh Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council) atau NIC bertajuk Mapping The Global Future. Tugas NIC ialah meramal masa depan dunia.(Berdasarkan penelitian Hendrajit dan ferdiansyah ali, direktur eksekutif dan manager Global Future Institute )

Tajuk NIC di atas pernah dimuat USA Today, 13 Februari 2005 — juga dikutip oleh Kompas edisi 16 Februari 2005.
Inti laporan NIC tentang perkiraan situasi tahun 2020-an. Rinciannya ialah sebagai berikut: (1) Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia, dengan China dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia; (2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS; (3) A New Chaliphate: Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat; dan (4) Cycle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia). Yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia — kekerasan akan dibalas kekerasan.
Dari keterangan dokumen rahasia tersebut sangat jelas adanya konspirasi yang sangat besar yang akan dijalankan oleh Amerika dan eropa. Semua rencana-rencana busuk sudah tersusun dengan rapi, tetapi Allah SWT telah membuka aib mereka. Hemat penulis dalam mendefinisakan  isu teroris tersebut adalah modus amerika dan eropa dalam melegalkan kolonialis dan imperiliasme, yaitu dengan cara pemanfaat isu teroris. Disini kepentingan ekonominya lebih besar dari pada politiknya.


Semenjak Adam Smith mengeluarkan buku the wealth of Nation pada abad ke 17, maka secara besar-besaran negara eropa melakukan ekspansi untuk melakukan kolonialisme dan imperialime tujuan mereka hanya 3,  keagamaan dan ekonomi, dan paham kapitalis (Gospel, Gold and glory). Motif semua itu adalah perampokan sumber daya alam negara lain melalui paham kolonialisme dan imperialisme, bagaimana dengan isu teroris sat ini.?menurut hemat penulis, isu teroris ini masih ada perpanjangan dari kolonial dan imperalis, karena dengan pemanfaatan isu ini,negara penjajah masih dapat secara legal atas dasar keamanan untuk  meletakan cengkramanya mengekploitasi sumberdaya dari negara tersebut. Sebagai contoh  kasus irak, afghanistan, palestina, mali dan negara dunia ketiga. ketika amerika menyerang Irak, harga minyak dunia melonjak hampir 100$/Barrel. yang timbul dalam pertanyaan kita..? apakah ini berdampak kepada APBN  amerika, karena amerika merupakan konsumsi minyak  terbesar didunia. jawabanya. TIDAK, amerika mendapatkannya secara gratis atau membeli secara murah melalui daerah jajahanya. Sudah jelas ini merupakan bentuk konspirasi biadab sepanjang sejarah manusia. jadi faktor utama semua ini hanyalah Ekonomi.

Kita selaku umat islam harus sangat berhati-hati dengan adanya konspirasi yang dilakukan oleh orang yang tidak suka dengan dakwah ini, konspirasi yang mereka buat  justru menjadikan pelaku kebajikan menjadi salah. Seperti yang terjadi saat ini. Ketika pemerintah Amerika protes ke WTO terkait kebijakan pemerintah indonesia dalam hal pembatasan impor holtikultura asal amerika untuk masuk ke indonesia. Ternyatanya tak ada angin, tak ada badai orang yang jelas-jelas menolak atau melawan itu menjadi tersangka, sungguh tidak adil hukum didunia ini. Semoga kita diberikan pengetahuan dan keberanian untuk tetap melawan konspirasi yang dilancarkan oleh para musuh Allah demi tegaknya “La-ilaha-iLLaLLah- Muhammadur-Rasulullah”...Aamin Ya Rabbal alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar