Senin, 30 Januari 2012

BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN



 Aku kini seorang mahasiswa di sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri di Kota Metro. Sebuah keadaan yang tak pernah terbayangkan dalam mimpi-mimpiku. Kini semuanya terukir indah dalam bingkai kehidupanku yang dipenuhi duri-duri. Tepatnya 18 Juli 2011, hari yang membuat jantungku bergetar seperti getaran bumi yang lempeng-lempengnya saling bertabrakan. Hatiku pun berbenturan, antara kecewa dan bahagia.
Terukir sebuah nama sederhana yang mempunyai semangat besar disana. Segenap beban kepayahan perlahan luluh, membaca namaku tertera dipapan pengumuman. Meski kecewa sedikit mengusik hatiku lantaran
tak masuk dalam daftar penerima bidikmisi. namun kutegakkan langkah untuk mengukir sejarah yang lebih indah. Ya! Semua ini adalah kehendak-Nya. Bukankah manusia hanya wajib berikhtiar semaksimal mungkin, sementara Dia pula yang menentukan hasilnya? Kuremas gundah dan kecewaku, kulempar jauh-jauh melompati batas nalar dan asa yang bisa diraih manusia.
Pertama kali ku menjejak bumi STAIN sebagai bukan siswi SMK Negeri 1 lagi, tapi sebagai calon mahasiswa yang siap menerima pengajaran hingga layak disebut mahasiswa STAIN. Langkahku gugup disela gempita dan tawa ceria peserta OPAK. Inikah dunia baruku? Dunia mahasiswa.
Kucoba menikmati suguhan-suguhan yang ditampilkan dalam permainan OPAK. Mulai dari yang membosankan hingga yang menyenangkan. Juga pada mata panah yang mengantarkanku pada biduk-biduk kecil tempatku bernaung disela perjalananku meniti langkah-langkah panjang menuju telaga ilmu. Disinilah aku menempa diri hingga membaja, memenuhi kepala dengan ilmu-ilmu, memenuhi hati dengan cahaya.
Dibawah atap biduk-biduk itu kini aku bernaung. Menghabiskan waktu-waktuku sesudah jam-jam kuliah. Mengisinya dengan kajian, diskusi, hingga pengetahuan pengasah kepekaan akal dan nurani. Meski biduk-biduk ini bukan tujuan utamaku, tapi disinilah aku menempa diri, mengumpulkan bekal untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang membentang.
Dan akupun semakin hanyut dalam buai kesejukan lautan ilmu. Hingga tak sadar berapa lamanya waktu telah terlalui. Waktu mengingatkanku untuk menengok sejarah silam. Masa yang telah lalu, akan kerasnya perjuangan meniti tangga menuju sebuah mimpi dan cita-cita. Tentang penolakan berbagai pihak atas ideku melanjutkan pendidikan formal. Tentang tuntutan untuk bekerja dan mengabdi kepada orang tua.
Namun ku enyahkan semua idealisme yang menutup jalan menuju mimpi dan cita-citaku. Kutangkis serangan-serangan yang terlontar bak mesiu Zionis Israel itu dengan semangat dan perjuangan yang tak mengenal batas lelah. Bukankah menuntut ilmu juga merupakan bakti kepada orang tua? Dan akhirnya mereka pun menyerah. Inilah buah dari perjuangan yang pahit dan penuh kepayahan.
Waktu terus merangkak. Perlahan tapi pasti hingga akhirnya berada dititik pangkal perjalanannya. Dan mataharipun semakin merambat siang, semakin terik dan membakar. Tak sehangat mentari pagi yang bersahabat. Kampus pun kini tak hanya sebagai tempat menimba bekal, namun juga telah berevolusi menjadi wadah bagi berkembangnya politikus-politikus ulung.
Sejatinya aku tak mengerti permainan macam apa yang diperankan oleh aktor-aktor kampus ini. Namun keterlibatanku dalam dunia organisasi mahasiswa mendesakku untuk memahami dan bahkan berperan menjadi aktor disana. Dan akupun berusaha memerankannya sebaik mungkin, sebatas kemampuan yang bisa kusalurkan.
Otakku kini tak hanya dijejali dengan retorika, materi kuliah, modul dan sebagainya. Kini ia juga dipenuhi dengan kobaran-kobaran semangat untuk terus berperan sebagai agent of change. Idealis memang. Tapi tanpa idealisme kita hanyalah makhluk kosong yang berjalan tanpa tujuan. Seumpama sebatang pohon yang terseret derasnya arus yang akan membawanya sekehendaknya.
Sajak-sajak perjuangan Bung Karno selalu memenuhi dada-dada kami untuk kembali berkobar, ketika api semangat meredup. “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncang dunia.”
“Dan akulah yang akan berdiri diantara penggoncang dunia itu.” Azzamku. Meski banyak yang menentang, meski banyak yang mencemooh, dan banyak pula yang tak sungkan mengusik.
“Apa bukti perjuanganmu? Mana karya-karya yang telah kau persembahkan jika memang kau ingin menjadi Agent of change?” dan segudang hujahan kerap terlontar. Miris memang ketika sandangan kampus islami namun merasa alergi dengan nilai-nilai islami. Mulai dari mahasiswa, staf, hingga dosen. Semuanya kini membuyarkan semua prestise indah yang terbangun mengenai STAIN. Sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri yang jauh dari ruh-ruh Islam.
Lembar demi lembar peristiwa yang terlukis dikanvas kehidupanku selama empat bulan menyisakan memoar tersendiri bagi ingatanku. Menyisakan kegamangan untuk menjemput takdir indah bersama kampus impian. Ya! Kampus yang ku impikan untuk berada didalamnya. Semua tampak indah saat ku intip dibalik tembok-tembok kampus, saat ku pandang dari celah-celah pagar sekolah yang hanya berjarak kurang dari lima belas meter dari kampus baruku.
Betapa pesonamu telah memudar. Namun celah-celah sejarahmu masih menyiratkan seberkas cahaya untuk kebangkitan. Akan kurobek celah itu, hingga sinar gamang yang bersembunyi dibaliknya dapat tersingkap. Sehingga terkesiaplah sosok Perguruan Tinggi Islam yang sebenarnya.
Terlepas dari retorika sejarah dan perpolitikan STAIN yang membuat ribuan dahi mengernyit, tersimpan kisah sehalus sutra dan seharum Zaitun disana. Terkesiap pada sebuah pagi yang indah ditaman-taman Firdaus yang menawan. Terlalu indah untuk diingat sebagai bagian sejarah sedang terlalu sulit untuk diangkat sebagai sebuah cerita.

Dari biduk-biduk kecil tempatku berteduh, muncullah bidadari-bidadari penyejuk hati yang selalu mengiringi ditiap langkahku dengan senyuman dan taujih-taujih kebenaran. Berkumpul bersama, menangis, tertawa, sedih, dan bahagia. Kadang pula kebersamaan ini memberikan sulutan-sulutan semangat yang membara. Semangat yang membakar kepongahan, kikir, riya’, malas, dan bongkahan-bongkahan congkak yang kerap bercokol dijiwa-jiwa manusia.
Disini pula semangat belajar terus bangkit. Evaluasi perpekan setiap amal yaumi. Tak luput pula evaluasi kuliah dengan kendala-kendala yang dihadapi. Semua membuat semangat baru tumbuh dan terus tumbuh hingga takkan ada lagi semangat yang layu bahkan punah.
Semakin jauh kaki meniti langkah, menjejak setiap episode waktu yang berputar. Maka semakin banyak kejutan-kejutan yang ditemukan didalamnya. Langkah yang terus ku kayuh mengantarkanku menemukan sosok-sosok sahabat yang renyah namun padat isi. Tak sekedar silau akan gemerlap masa remaja, namun menyibukkan diri dengan persiapan-persiapan menghadapi masa pasca remaja.
Komunitas baru yang membuatku banyak belajar dan menelaah. Memikirkan tentang masa yang akan datang serta menyusun rencana menghadapinya. Bahwa masa depan adalah sebuah masa yang lebih kejam dan penuh kepayahan. Bahwa masa depan adalah waktu dimana posisi kita akan bertukar, dari seorang anak lantas menjadi orang tua, dari yang biasa menengadah menjadi terbiasa menderma.
Akupun menempa diri disana. Dalam sebuah lingkaran kecil, namun berisi jiwa-jiwa yang begitu besar. Dalam ruang yang sempit, namun berisi pikiran-pikiran yang luas. Akupun semakin terhipnotis dan tersedot masuk kedalamnya. Meski didalamnya kerap terjadi pergulatan hebat, tapi kami tak ingin melepaskan satu dengan yang lain. Semua jiwa telah menyatu dalam relung yang teduh, dalam tali ikatan yang indah. Tali persahabatan.
Persahabatan. Kata yang paling anti kutemui dalam kamus harianku disepanjang hidupku. Hadirnya membawa luka, hilangnya membawa sengsara. Dan aku kini tengah terikat didalamnya. Didalam kata yang paling kucari lawannya. Bahkan aku merasa nyaman didalamnya. Bukan pada idealisme yang mudah terganti, namun pada kehangatan jiwa-jiwa yang telah menyemai bibit kepercayaan digersangnya nurani. Dan kubiarkan bibit itu tumbuh indah sebagai penghijau taman jiwaku yang rindu akan sosok sahabat.
“Lalu dimana posisi bidadari-bidadari yang kau temui dibiduk-biduk kebanggaanmu itu?” suara pongah itu menyergap kegamanganku lagi.
“Bidadari-bidadari itu ada dihatiku. Begitupun sahabat-sahabatku. Mereka semua adalah bagian dari hidupku yang semuanya telah memberi warna pada hari-hariku yang semula tertutup mendung.” ku tata posisi-posisi mereka. Dibagian mana saja mereka bersemayam? Tentu bagian yang tak lebih tinggi dari bersemayamnya ‘Arsy Sang Maha Raja.
Akupun semakin terhanyut dalam pesona dunia baruku. Dunia mahasiswa! Dunia yang menjadikanku mengukir beribu lembaran kisah dalam kurun beberapa bulan. Dunia yang menakjubkan. Dunia yang… ah tak bisa kulukis dalam secarik kertas putih. Semua terekam indah dalam PC terbaik yang pernah diciptakan. Memori otak manusia.
Waktu terus berputar laiknya putaran jarum jam yang takkan berhenti sampai penghabisan energi baterainya. Akupun bertemu pada waktu yang mengantarkanku menuju pengembaraan singkat melintasi lembar-lembar masalalu. Diberanda masjid kampus, tempat yang selalu sesak dengan aktivitas mahasiswa, mulai dari belajar, sholat, bahkan hanya sekedar menghabiskan waktu bersama kawanan masing-masing yang kini lengang.
Bayang-bayang masalalu mulai berputar, seperti slide presentasi dalam sebuah rapat pejabat maupun orang kesohor negeri ini. Mengingati kata-kata Emak saat aku meminta izin kuliah.
“Kamu tu jadi anak kok nggak ada rasa syukurnya. Sudah mending disekolahin sampek SMA, masih mau kuliah lagi. Nggak mikir apa kamu, mau dibayar pakek apa kuliahmu nanti? Lihat tuh bapakmu, sampe mau beli baju baru aja nggak kebagian duit. Duitnya habis buat ngebiayain kamu sekolah.” kata emak sambil terus menumpahkan emosinya. Aku hanya tertunduk, menahan gerimis dimataku yang semakin deras tak terbendung.
“Lihat tuh anak-anak disini. Nggak ada yang kayak kamu. Semuanya nurut sama orang tua. Bahkan anak Pak RT pun manut disuruh berhenti sekolah sampek SMA.” dan runutan kata-kata pedas lainnya terlontar bak peluru-peluru bengis Zionis Israel.
Kupingku terasa panas tak tahan mendengar kata-kata emak yang demikian menentang keinginanku. Hatiku bergejolak ingin menentang bulat-bulat apa yang emak katakan. Tapi mulutku tetap terkunci, hanya hatiku yang berorasi dengan irama degub jantung yang tak teratur. Diamku adalah bukan karena tunduk bahkan takluk. Diamku adalah pemberontakan yang hanya terwakili oleh jeritan-jeritana hati yang tak berdaya. Mengingati aku hanyalah seorang anak. Tak kuasa aku membantah apa yang ia, wanita mulia itu katakan.
“Bukankah amal yang akan terus mengalir untuk kita, bahkan setelah kita pergi meninggalkan dunia salah satunya adalah ilmu? Dan bagaimana kita akan mendapatkannya tanpa belajar? Memang benar belajar tak harus selalu pada dosen, dengan buku mata kuliah, tapi bukankah sebagian besar ilmu ada pada buku?” hatiku terus berorasi.
“Wahai ibu, mengertilah. Aku hanya ingin memuliakanmu dengan ilmu yang kumiliki. Walau ilmu itu tak bisa kau cecap. Tapi kau akan bisa mencecap buahnya kelak. Dan Allah pun memuliakan orang-orang yang berilmu dan mengangkatnya beberapa derajat. Apakah kau tak menginginkan itu ibu?” rintih batin yang hanya bisa kudengar dan kujawab sendiri.
 Keinginanku untuk terus menuntut ilmu tak terbendung. Bukan bersandar pada nafsu, tapi sekedar ingin mengikuti perintah-Nya dan tuntunan Rasulnya. Ah! Andaikan mereka mengerti. Ilmu adalah air laut. Ketika kita minum, tak akan pernah terpuaskan dahaga. Bahkan, akan membuat jiwa dan raga makin haus dan ingin meminumnya lebih banyak lagi.
Tak sedikitpun pedasnya kata-kata itu melunturkan semangatku untuk terus kuliah. Kuliah, kuliah, dan kuliah. Entah apa ajaibnya kuliah. Tapi aku yakin kuliah bukanlah mimpi yang salah apalagi sesat. Untaian kata mutiara dari sosok mulia terus menghantui jiwaku, mengisi otakku dengan mimpi dan cita-cita. Dan dari lisannya yang mulia itulah jiwaku, raga, dan pikiranku menemui keberanian.
“…tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat.” sabda Rosul yang semakin membakar semangatku.
Dan sebuah jalan itu akhirnya terbuka untukku. Allah telah membayar perjuangan hamba-Nya dengan seteguk madu yang manis. Yang manisnya menghapuskan pil-pil pahit yang sekian lama tercecap. Sebuah hadiah mampir ditanganku tanpa kuduga sedikit pun. Saat itu, aku hanya berfikir lulus ujian dengan nilai murni. Nilai dari buah pikiranku sendiri, tanpa campur tangan dan bisikan-bisikan dari bangsa jin dan manusia.
“Bismillah… carilah nilai dalam pandangan Allah. Bukan pada pandangan manusia! Allah bukan menilai hasil, tapi Dia menilai jalan yang kita tempuh untuk berhasil!!!” kata-kata semangat yang kutulis sebagai penghias kartu ujianku. Sebagai penyemangat dan juga prinsip untuk menjadikan-Nya sebagai nomor satu.
Dan inilah bayaran atas semua itu. Nilaiku keluar sebagai siswa dengan nilai ujian tertinggi se-SMK di Kota Metro. Tak pernah sedikit pun aku membayangkan semuanya. Namun, semua kuyakini adalah skenario terbaik dari Yang Maha Pengatur. Subhanallah, Maha Kuasa Allah atas segala sesuatu.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama kesulitan ada kemudahan.” janji-Nya adalah sebuah keniscayaan. Membaca ayat penyemangat. Meniupkan ruh baru dalam jasad yang hampir terbujur kaku oleh kebekuan dan mati oleh keputus asaan. Tapi Allah membenci hamba-hamba-Nya yang berputus asa bukan?
Dengan bekal yang ada semakin mantap aku melangkah, mendaftar sebagai mahasiswa STAIN. Berharap keajaiban Allah kembali menghampiri, kucoba mengikuti program bidikmisi. Dengan segenap usaha terbaik yang bisa kulakukan.
Berhari kujalani tanpa keterusterangan pada Emak maupun Bapak. Demi mengejar berkas-berkas yang harus dipenuhi. Harus rela disengat mentari, harus ridho diguyur hujan, bahkan harus ikhlas ketika raga mengerang kesakitan. “Bertahanlah duhai raga yang rapuh. Demi sebuah penghmbaan pada-Nya.” bisikku lirih pada raga yang kian merintih.
Dan ternyata Allahpun belum menghendaki aku mendapatkannya. Maka dengan sepenuh keridhoan aku mencoba mensyukuri apa yang Ia kehendaki atasku. Apapun keputusan-Nya pastilah yang terbaik bagi hamba-Nya. Dan semua itu baru ku ketahui kini. Mengapa Allah tak memasukkanku dalam daftar penerima bidikmisi itu? Karena Allah sayang padaku. Karena Allah tak menghendaki tubuhku dihimpit kepayahan yang bertubi. Dan karena yang lainnya lagi. Semuanya adalah yang terbaik dari-Nya.
Dan nikmat-nikmat-Nya yang telah mengalir tak akan mungkin membuat hamba yang lemah menjadi tak bersyukur. Bahkan, hingga saat inipun masih berjejal nikmat-nikmat-Nya untuk disyukuri. Nikmat Iman, nikmat sehat, nikmat udara, dan seluruh nikmat-nikmat yang takkan mampu tertulis. Meski bumi dihamparkan untuk menjadi kertas, dan air dilautan dijadikan tinta hingga ditambah tujuh kali lagi. Semuanya takkan cukup untuk menuliskan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan. Dan nikmat persaudaraan Islam serta persahabatan adalah anugerah-Nya untukku yang harus ku syukuri dan kurawat baik-baik.
“Dan nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” lantunan cinta Allah dalam Ar-Rahman membasahi hati-hatiku, menyejukkan batinku, bahkan menyentak jiwa yang sekian lama jauh akan kesyukuran. Allahu Rabbi ampuni hamba-Mu.
Hanya saja sedikit hati ini merasa pilu. Menatap kawan-kawan yang kurang memanfaatkan karunia Allah dengan sebaik-baiknya. Yang masih terlena dengan hal-hal yang sia-sia dan jauh dari kebermanfaatan. Masih mabuk dalam gelimang kesenangan dunia remaja tanpa memikirkan mengapa sesungguhnya ia ada. Tanpa memikirkan teka-teki, mengapa Allah memilihnya?
Benar-benar pemuda saat ini belum mampu menjalankan perannya sebagai agent of change, sebagai iron of stock. Padahal sejuta harapan tertumpu dibahu pemuda. Tentang asa bangsa akan lahirnya kejayaan, akan lahirnya generasi yang cerdas, akan lahirnya generasi yang tangguh dan berwawasan keilmuan dan keimanan yang mendalam. Sebuah beban yang amat berat bagi sosok-sosok pemuda saat ini.
Hatiku tiba-tiba sesak. Menimbang berat beban yang tersandar dibahuku. Dengan aku yang masih seperti ini, akankah semua asa dan harapan itu akan menjelma nyata? Ataukah hanya akan menjadi puing-puing berserak yang akan semakin memenuhi tong-tong sampah masyarakat?
Otakku memanas, mencoba melelehkan kebebalan yang sekian lama menggumpal bahkan mengkristal dijiwa-jiwa yang lama musafir. Akankah perjuanganku empat bulan ini akan berakhir di tong-tong sampah yang sudah berjejal itu?
“Dan akulah yang akan berdiri diantara para pengubah peradaban itu!” kalimat itu terus terdengar ditelingaku. Terasa seperti musik pengiring drama kehidupan yang terus berjalan.
Kedamaian beranda masjid itu kembali membawaku menyelami kisah-kisah masalalu. Aku kembali termenung dan mengingati perjalanan hidup yang terlewati. Penuh liku, penuh cacat dan cela.

Rabbi jalan-Mu adalah jalan yang terindah bagi hamba-Mu
Engkau tak pernah menghendaki celaka atas kami
Tapi kamilah yang mencelakai diri kami sendiri
Ampuni segenap kejumudan dan kelalaian kami
Segenap khilaf dan dosa-dosa kami
Pertemukanlah kami di Yaumul Jaza’-Mu
Dalam mimbar-mimbar cahaya dibawah ‘Arsy-Mu
Pertemukan kami sebagai orang-orang yang syahid dijalan-Mu
Sebagai orang-orang yang bersaudara karena-Mu
Sebagai orang-orang yang memohon ridho dan ampun-Mu
Aamiin

Aku pun segera beranjak meninggalkan beranda masjid menuju celah ruang didalamnya. Membasahi jiwa-jiwa yang kering dan haus akan ilmu. Memenuhi barisan-barisan tentara-tentara yang bersenjatakan pena. Karena kami memandang kehidupan ini adalah tempat untuk belajar agar kami dan generasi penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk kemenangan sejati, kemenangan Illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar