Senin, 30 Januari 2012

CINTA DAN PERSAHABATAN






By: Fery Anggriawan

Suara adzan subuh terdengar syahdu ditelingaku. O, merdu nian menelusup di relung kalbu memecahkan suasana sepi di antara langit hitam yang mulai membiru di ufuk timur. Di pagi yang penuh ceria ini aku langkahkan kakiku menuju halaman rumah menatap temaram sang mentari yang malu-malu muncul dari pekatnya kabut pagi.
Hujan semalam telah membasahi kota ini. Aku melangkah menyusuri trotoar di sepanjang jalan Ki Hajar Dewantara menuju kampus hijauku. Genangan air masih nampak disana sini. Hujan semalam benar-benar telah menghapus jejak-jejak telapak kaki yang telah terukir di muka bumi ini
Anganku memburai pada detik demi detik yang berlalu. Kini
gerbang kampus telah membentang dihadapanku. Kusapa dengan senyum terhangat, seperti saat pertama kali aku memasuki kampus ini dengan memakai seragam putih abu-abu.
Tidak terasa empat bulanpun sudah berlalu dan masih teringat dengan jelas didalm ingatanku sa’at aku berdiri didepan masjid Azkiya menatap kibaran bendera sang Merah Putih. Sinar mentari yang menyinari bendera dari ufuk barat menambah indahnya suasana sore disaat itu. Seperti Mahasiswa lainnya yang berada di sekitarku mereka berdiri tegak menikmati pemandangan sore  didalam kampus STAIN Jurai Siwo Metro sambil menanti matahari terbenam. Saat itu senja sudah semakin merah. Aku dan Mahasiswa yang lainpun pulang menuju rumah masing-masing dengan semangat yang baru.


Begitulah kehidupan ini, putarannya tak pernah kita rasakan membuat empat bulan terasa begitu cepat dan hari-hari berlalu seperti angin lalu. Kehidupan inipun ibarat roda yang selalu berputar tak menentu arah dan tujuannya dan mereka yang lalai akan tetap tertingal dan tersisih dengan mereka yang terus melawan kerasnya kehidupan akan tetap bertahan.
Namaku Sandi Reza dari jurusan Syari’ah yang mengambil Program Study Ekonomi Islam. Tidak seperti mahasiswa yang lainnya yang masuk ke Fakultas Ekonomi Islam bukan karena kecelakaan namun karena sejak awal aku sudah metetapkan bahwa Ekonomi Islamlah yang akan aku pilih dan semua itu sudah menjadi kenyataan bukan lagi lamunan ataupun sebuah khayalan belaka.
Beberapa bulan telah aku lalui bersama STAIN Jurai Siwo Metro. Banyak cerita yang telah aku dapatkan dari yang bahagia maupun sampai kepada kisah yang sangat menyedihkan. Pagi ini di samping masjid yang ada di dalam kampus aku duduk tengadah menatap birunya langit yang dihiasi dengan awan-awan putih dan sesekali diselingi burung-burung yang berterbangan diangkasa membuat sempurnya pemandangan ini jika saja salah satunya tiada maka indahnya biru langit takkan pernah ada.
Seperti kehidupan yang aku lalui ini. Aku takkan pernah mampu menempuh kerasnya kehidupan selama berada di  STAIN tanpa adanya sahabat yang selalu siap merangkul diriku saat aku tak berdaya dan menjadi penopang disaat aku tak kuasa menahan kerasnya kehidupan di dunia ini.
Siang itu setelah pelajaran Metode Studi Islam (MSI) disela-sela kesibukanku memberikan sebuah penjelasan terhadap seorang teman tentang posisi Islam terhadap Agama-agama di dunia. Datang seorang wanita dengan pakaian serba birunya dengan jilbab hitam bercorak hijau menutupi auratnya meminta pertolongan untuk membetulkan flasdisknya yang rusak, tanpa berfikir panjang aku sanggupi apa yang ia katakan karena aku memang ahli dalam bidang elektronik dan komputer.


Setelah dirasa sudah tidak ada keperluan yang berarti lagi iapun berlalu dari hadapanku dan tanpa aku sadari saat ia berada di luar kelas aku menatap jilbabnya yang berlambai-lambai dimainkan oleh angin yang berhembus kearahnya. Sungguh indah pemandangan yang aku tatap ini. Wanita itu bernama Aima yang kini telah mewarnai kehidupan yang telah aku lalui selama beberapa bulan ini sebagai sahabatku.
Aima adalah sosok wanita yang sangat lucu dan unik. Tidak seperti wanita sebagai mana mestinya, Ia adalah penggemar salah satu club sepak bola Indonesia yaitu Arema. Persahabatan yang terjadi antara aku dengan dirinya bukan karena alasan memiliki club kesukaan yang sama melaikan karena obrolan kami selalu nyambung. Seiring dengan berputarnya waktu Aima mengenalkanku kepada seorang teman yang sudah menjadi sahabat baginya yaitu Anisa. Ia adalah salah satu sosok wanita yang cerdas di dalam lokal F dan memiliki idealisme yang sangat tinggi.
Selain itu kepandaian dan pola fikirnya jauh di atas rata-rata. Setiap presentasi yang ia lakukan didepan kelas sangatlah bagus ia juga mampu mejawab setiap pertanyaan yang datang bertubi-tubi di dalam termin tanya jawab sehingga menjadikan ia wanita yang paling disegani didalam kelas. Semua yang ada pada dirinya sangatlah aku kagumi namun dibalik semua itu Anisa adalah sosok wanita yang sangat lembut dan luar biasa.
Perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan yang tidak mudah, tak perlu menelusuri lebih dalam tentang kehidupannya semua itu sudah nampak dari senyuman yang ia berikan kepadaku dan masih teringat jelas didalam ingatanku sebuah senyuman yang ia berikan mengajarkanku akan sebuah ketegaran dan kekuatan didalam menghadapi sebuah masalah yang ada, ia pula yang mengajariku agar tidak lari dari sebuah masalah yang datang. Sesulit apapun masalah yang datang harus hadapi dengan senyuman.
Disuatu sisi yang lain akupun mengenal sosok lelaki yang bernama Joesandi sama seperti para mahasiswa yang lainnya, ia berasal dari Kota Metro ini, dan memutuskan untuk kuliah di STAIN dan masuk ke Fakultas Ekonomi Islam karena kecelakaan. Ia tidak diterima di Prody yang ia pilih yaitu Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) tapi kini ia telah menikmati berada di Ekonomi Islam sesuai dengan pekerjaan yang ia jalani yaitu di perusahaan asuransi yang bernama Prudential cabang Kota Metro. Ada sesuatu yang menarik perhatianku terhadap laki-laki ini yaitu ia memiliki sebuah keahlian merangkai sebuah kalimat dan memberikan sebuah motivasi terhadap jiwa-jiwa yang sedang galau. Setiap kalimat demi kalimat yang keluar dari bibirnya mengandung berjuta-juta partikel semangat yang siap masuk kedalam jiwa-jiwa yang sedang galau. Menjadikan ia mudah bergaul dan memiliki banyak teman hingga akhirnya ia menjadi sahabatku diatara sahabat-sahabatku yang lainnya. Namun sosoknya yang sangat misterius membuat aku sulit memahami kehidupannya yang penuh dengan misteri.
Sambil duduk dan menikmati sebotol teh diteras masjid Adzkiya kukenang mereka dalam pelukan pagi ini. Mereka yang kukenal sebagai sosok seorang yang luar biasa dengan segala prinsib hidup yang sangat aku kagumi. Namun lamunanku buyar ketika terdengar sapaan dari beberapa orang yang begitu lembut menyapaku serta senyum khas mereka tidak asing bagiku. Senyum itu dan wajah itu sangat aku kenal mereka adalah Aima, Anisa, dan Joe sahabat terbaik yang aku miliki.
Kami sering belajar kelompok dimasjid ini untuk membahas sebuah permasalahan dan tugas-tugas yang diberikan dosen kepada kami dan kelompok belajar ini kami anggab sebagai majelis ilmu. Suatu ketika disaat kami sedang berdiskusi ada salah seorang sahabat bertanya kepadaku.
“Sahabat sampai kapan persahabatan ini akan berlangsung?” tanya Anik kepadaku.
Dengan senyum aku menjawabnya “Sampai akhir hayat ” dan merekapun tersenyum dengan jawaban yang aku beri.
Suasana kebersamaan yang berlangsung beberapa bulan ini masih menyimpan begitu banyak misteri yang masih belum terungkap. Antara Aku dan mereka masih salaing menyimpan sesuatu yang belum terungkap. Mereka bertiga sudah aku anggab sebagai Adik-adikku mengingat usiaku dua tahun lebih tua dari mereka. Sebagai orang yang terlahir kedunia ini lebih dahulu aku selalu mencoba berfikir lebih dewasa. Terhadap mereka aku mengajarkan arti sebuah keterbukaan antara yang satu dengan yang lainnya agar kami dapat saling memahami antara satu dengan yang lain.
    Suatu saat seusai mata kuliah Bahasa Indonesia yang diajar oleh Bapak Soekardi kami berkumpul kembali dimajelis ilmu itu. Saat kami berkumpul aku merasakan suatu perasaan yang aneh terhadap salah seorang dari mereka namun aku mencoba tuk membiarkannya mungkin hanya sebuah perasaan sesaat saja. Ketika itu Joe mengutarakan sebuah perjalan hidupnya kepada kami dan ia berkata kepada kami.
    “Saat saya berada bersama kalian saya merasakan sebuah semangat didalam diri saya namun saat saya jauh dari kalian misalnya lagi dirumah saya sama sekali tidak bisa seperti saat ini memiliki semangat seperti sekarang”


    Mendengar pernyataannya itu terhadap kami, Aku mencoba memberikan sebuah motivasi terhadap dirinya dengan sebuah kertas dan pulpen yang aku ambil dari dalam tas dan mulai menggambarkan sebuah tungku yang dibawanya menyala sebuah api dari kayu bakar yang kemudian aku jelaskan kepadanya.
“Semangat itu laksana sebuah api yang menghangatkan air yang didalam tungku ini saat api masih menyala maka air itu akan senatiasa terjaga kehangatannya namun saat api itu padam maka air itu akan kembali menjadi dingin oleh sebab itu kita harus memasok kembali kayu-kayu bakar tersebut agar api yang menyala seantiasa terjaga. Begitu juga dengan semangat yang ada didalam diri ini disaat ia berada diposisi tertinggi kita harus menjaga semangat itu agar tidak turun diposisi terbawah dengan cara membangun sebuah motivasi didalam diri untuk selalu berusaha lebih baik dari hari ini”.
Seiring berjalannya waktu persabatan diantara kami semakin dekat seperti saudara kandung sendiri. Namun perasaan yang aku biarkan mengalir begitu saja mulai menggagu kehidupanku sebuah perasaan yang sangat aneh dan belum pernah aku rasakan sebelumnya. Semakin hari aku membiarkannyan semakin ia menyiksa diriku. Saat aku menatapnya atau dia yang menatap diriku tubuh dan jiwa raga ini tak mampu menahan sebuah rasa yang sangat menyebalkan sekali.
Hingga suatu saat aku menyadari bahwa perasaan yang sangat aneh ini yang disebut sebagai Cinta. Ia datang tanpa menyapaku terlebih dahulu sehingga raga ini belum siap menerimanya banyak cara sudah aku coba untuk memusnahkan rasa ini namun semakin aku mencoba rasa ini semakin kuat hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjaga jarak terhadap dirinya.
Jarak yang aku buat untuk memusnahkan sebuah rasa cinta ini telah membuat kelompok belajar yang aku buat mulai retak karena jalan sendiri-sendiri dengan kesibukan masing-masing. Bukan maksudku untuk menjauh dari kalian sahabatku namun aku mencoba memusnahkan sebuah rasa yang sudah mengoyak rasaku ini. Mungkin karena baru pertama kali ini aku merasakan indahnya jatuh cinta namun diri ini belum siap menerimanya sehingga terlalu rumit untuk menyikapinya sampai-sampai aku mencurahkan pikiran ini kedalam dinding Facebook seorang motivator nomor satu di Indonesia yaitu Bapak Mario Teguh.
“Pak mario apakah sebuah persahabatan yang sudah diabangun dengan susah payah dan penuh dengan perjuangan harus berakhir dengan kesalahan salah seorang saja yang ia tak dapat terbuka dengan sahabat yang lain akan sesuatu yang menimpa dirinnya?”
Sebelum Pak mario memberikan sebuah nasehat ada seorang sahabat yang mengomentari pesan dindingku ini ia adalah Anisa.
“Sahabat mungkin engkau tidak bisa terbuka karena terlalu sulit mengungkapkannya atau karena sesuatu itu sangat privasi buatmu. Tidak apa-apa, kamu punya hak privasi dan tidak segalanya harus kamu katakan kepada kami jika memang kamu rasa itu rahasia kami akan mengerti dan jadilah Feri yang dahulu karena semua itu fitrah jangan menyiksa dirimu sendiri dengan hal itu”
Sebuah komentar dari sahabat yang menyadarkanku dari kesalahan yang telah aku lakukan kata-kata yang ia berikan dapat membuka pola fikirku yang salah memaknai sebuah rasa yang aneh ini. Belum sempat aku berfikir lebih jauh sebuah balasan dari Mario Teguh yang menambah keyakinan bahwa caraku menyikapi sebuah rasa cinta ini.
Dearest sahabat Sandi Reza yang baik. Bapak Mario Teguh menasehatkan:
“Ada orang yang lebih baik disayangi dari jauh. Apakah ada diantara orang yang anda sayangi atau yang anda sahabati yang perilakunya seperti menginginkan anda merasa minder, tidak percaya diri, merasa selalu salah atau selalu kurang?. Hiduplah damai bersama diri anda sendiri dan mereka yang menghormati hak anda untuk menjadi pribadi yang kuat dan bahagia”.
Mungkin karena aku yang terlalu takut dengan apa yang aku rasakan akan merusak semuanya dan terlalu takut sehingga membuat sesuatu yang kecil menjadi besar. Aku menyadari betapa bodohnya driku membiarkan ketakutan menguasai diriku. Sesungguhnya aku telah terbelenggu rasa takut sampai-sampai aku tidak dapat merasakan kasih sayang dari seorang sahabat yang secara tulus memberikannya.
Betapa lemahnya diriku membuat rapuhnya jiwa ini sehingga aku menyadari sulitnya hidup yang aku jalani saat aku berada jauh darimu wahai sahabat. Kini dengan segala kelemahan jiwaku, aku melangkah memberanikan diri untuk kembali mendekat kepadamu wahai sahabat. Sambutlah aku dengan senyum yang dahulu aku lihat bawalah aku kembali kepada jati diriku yang baik karena aku menyadari betapa pudarnya jati diriku tanpamu wahai sahabat. Sekali lagi disaat hati sedang galau anik selalu memberikan sebuah semangat kedalam diriku dengan kata-kata mutiara yang ia berikan kepadaku.
“Jalan ini masih lapang untukmu sahabat selapang hati kami menyambut hati seorang sahabat yang pernah kehilanan arah. Ketakutan itu takan pernah ada jangan kamu fikirkan lagi yang telah lalu Dekatilah ia dan jangan lari dari segala yang ada kita pasti bisa mengatasinya bersama”.
Sungguh indah rasa cinta yang aku rasakan sehingga aku tak tau mengapa aku dapat mencintainya seolah-olah aku mencintai dirinya tanpa  ada satupun alasan yang membuat aku mencintai dirinya. Kini rasa cinta itu hanya aku simpan di dalam hati dan takan aku ungkap sampai waktu yang tepat untuk aku menyatakan rasa itu atau hanya menjadi sebuah kenangan yang indah.
    Seandainya saja aku dapat menyikapai dengan baik akan kedatangnya  sebuah cinta semua itu takan pernah seperti ini. Banyak kejadian yang seharusnya tak terjadi namun apalah daya inilah rasa cinta yang pertama kali aku rasakan ini takan pernah aku lupakan. Andai saja suatu saat nanti engkau telah memilih jiwa yang lain aku akan berlapang dada menerima semua itu wahai sahabat karena terkadang memang ada orang-orang yang harus disayangi dari jauh.
Sahabat sudah terlalu lama aku menjaga jarak dengan kalian kini saatnya kita kembali berkumpul untuk berbgai kisah yan telah kita lewati di majelis kita tempat dimana kita mengekspresikan diri dan membahagiakan sesama. Tuhan terimakasih engkau telah memberikan sahabat-sahabat terbaik bagiku.
Sudah beberapa hari aku tak mendengar dan melihat sosok Joe. Begitulah ia sosok yang sangat misterius menjadikan dirinya sangat misterius akan semua yang engkau lakuakan wahai sahabat dan teruntuk sahabatku Anik terimakasih engkau selalu memberikan semangat bagiku disa’at hatiku di dalam keadaan galau.
Pagi ini meski langit biru dan sinar mentari tertutupi oleh awan mendung tak membuat semangatku goyah untuk menemui mereka dihari ini. Aku sudah merindukan senyum-senyum bahagia dari wajah mereka saat menyambut kembali kedatanganku.
Dari balik sebuah pohon aku menatap mereka dari kejahuan tiada yang berubah dari mereka senda gurau dan senyum meraka masih sama seperti empat bulan yang lalu. Aku beranikan diri untuk melangkah menuju mereka dan terlihat dari kejauhan mereka melambaikan tangan kearahku seolah-olah mereka ingin berkata
“Sandi cepatlah kemari kami sudah menunggu kehadiranmu sejak tadi” pikirku di dalam hati.
    Akupun langsung berlalari menuju teras masjid tempat dimana kami saling berbagi antara yang satu dan yang lain. Kami berkumpul seperti biasa seolah-olah mereka  tidak mengetahui apa yang terjadi kepada diriku beberapa waktu lalu tentang perasaanku terhadap dirinya. Suasanyapun tidak ada yang berubah canda dan tawa mereka selalu menghiasi dimajelis Ilmu ini.
    Dalam tawa dan senyum aku pandang wajahnya tak terbayangkan bila aku mengungkapkan perasaanku saat ini. Apakah masih aku masih dapat melihat senyum yang keluar dari bibirnya itu dan aku rasa tidak terimakasih sahabat yang telah mengingatkanku akan semua ini.
    Kisah ini akan aku simpan didalam hati hingga bila waktunya telah tiba akan aku ungkapkan kepada dirinya tapi tidak sekarang karena aku dan juga yang lain sedang fokus menatap masa depan yang cerah dengan belajar yang sungguh-sungguh diperkuliahan ini dengan target IP diatas 3,5. Sahabat terimakasih atas segala ketulusan kalian menerima segala kekuranganku suatu saat nanti kisah ini akan menjadi kisah yang panjang untuk diceritakan.
Sebuah kisah cinta dan persahabatan yang yang sangat luar biasa aku rasakan selama berada di STAIN Jurai Siwo Metro. Kini tinggal bagaimana aku menyakapi semua ini, akankah memilih cinta atau persahabatan namun jawaban itu sudah sangat jelas bahwa persahabatanlah yang akan aku pilih dengan memendam semua rasa yang ada. Tunggu aku sahabat suatu saat nanti akan aku ungkap semua rasa yang ada didalam hati ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar