
“Bismillahirrohmanirrohim” ucapku di pagi itu ketika akan memulai orentasi pengenalan akademik (OPAK) di STAIN Jurai Siwo Metro.
Hanya ada perasaan bahagia difikiranku saat itu, karena aku merasa baru kemarin aku melalui ujian, tapi sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi. Semua perlengkapan telahku siapkan, tak lupa papan nama yang menjadi identitas diri sudah ku kalungkan untuk menunjukkan bahwa aku adalah
Dwi Lestari, Prodi Syariah, jurusan Ekonomi Islam dan lahir pada tanggal 29 Januari 1993. Sepatu fantofel hitam dengan pita diujungnya sudah ku pakai.
Baju hitam putih yang terliahat serasi dibadan ku sudah ku kenakan. Tepat jam 6 pagi aku siap berangkat dengan kendaraan kesayanganku Honda beat warna hitam. Tak butuh waktu lama cukup sekitar 10 menit, aku tiba di kampus. Suasana yang masih sepi membuat ku sedikit kecewa.
“Kirain mah udah rame,tapi ternyata..huft mengecewakan, payah..” ujarku mengeluh karena area kampus yang masih sepi.
Sembari menunggu temen-teman yang aku kenal, aku berjalan menyusuri lorong-lorong kampus yang masih sepi, tapi ternyata tak seorang pun aku menemui orang yang aku kenal, aku hanya meliahat sekumpulan cewek-cewek yang sedang ngerumpi. Tak berapa lama dari arah gerbang aku melihat orang yang aku tunggu Sandy Isnaini namanya, dia temanku saat aku masih SMP, dia juga satu progam prodi dengan ku. Terburu-buru ia menghampiriku sambil menenteng tas yang ia bawa.
“Ya ampun wik, akhirnya nyampe’ juga aku di kampus” katanya
“Kamu koq kaya’ orang bingung gitu si San?” tanyaku
“Iya ni wik, aku bangun kesiangan,kaya’ gini dech jadinya” jawabnya
“Ya udah cepet masuk barisan..!” ajakku
Sandy pun masuk kedalam barisan. Tak disangka ketika dibarisan kami bertemu dengan Arganita yaitu salah satu sahabatku semasa SMA. kemudian aku memperkenalkan Sendy dengan Arganita.
“Sudah dari tadi ta?” tanyaku kepada Arganita
“Engak kok, mungkin baru 5 menit.” jawab arganita
“Tapi kok aku gak liat kamu dari tadi?” tanyaku
“Iya tadi aku duduk disebelah sana.” (menoleh kearah tempat duduk di ujung lapangan
‘Ow gitu, kenalin ta, ini temenku di SMP namanya Sendy.” kataku
“Salam kenal ya,aku Arganita,kamu alumni dari mana?” Tanya Arganita kepada Sandy sambil mejulurkan tangnanya untuk saling bersalaman
“Saya Sandy, saya alumni MAN 2.” jawan Sandy sambil menjabat tangan Arganita
“Akhirnya aku ada temen juga.” ucapku pada Sendy dan Arganita
Tak lama kemudian upacraa pembukaan OPAK tahun 2011 dimulai. Barisanpun dirapikan dan kami terfokus pada pemimpin upaca tersebut. Upacara berlangsung dengan hikmat meskipun dengan matahari yang begitu terik.
“Huh..panas banget si….” keluhku
“Bentar lagi selesai kok wik..” kata Arganita menenangkanku
“Iya, iya aku tau kok…” jawabku sambil mengusap keringat
Setelah kurang lebih 1 jam upacara pun selesai.
“Akhirnya, selesai juga.” ucapku
“Iya,panas banget ya tadi.” tambah Sandy
“Yang pentingkan sekarang udah selesai. Ya udahlah itung-itung ¬nginget masa-masa SMA.” kata Arganita
“Ok..” jawabku
Setelah upacara selesai seluruh peserta OPAK diperintahkan untuk menuju Gedung Serba Guna (GSG). Kami bertiga pun ber jalan menuju GSG.
Setelah sampai di GSG kami mencari tempat duduk yang nyaman.
Acara materi pun dibuka, kami pun bersiap untuk menerima materi yang akan disampaikan oleh pemateri, alat tulis yang kami bawa, kami keluarku untuk mencatat materi tersebut.
Materi pertama pun dimulai, kami sangat mengikuti dan menyimak dengan rasa antusias. Materi demi materi pun telah kami lalui. Tepat pukul 12:00 kami beristirahat untuk melakukan shalat dzuhur dan istirahat makan siang selama 15 menit. Kami bertiga jalan ke bawah pohon untuk makan siang.
Kami membuka bekal dan mempersiapakan sendok serta air minum. Kami bertiga makan siang bersama di bawah pohon itu. Terik panas matahari tidak kami rasakan,karena rasa lapar yang sudah terbayar. Setelah kami selesai makan siang, kami pun bersantai sembari meregangkan otot yang terasa kaku karena terlalu lama duduk.
Setelah 15 menit, kami bertiga kembali ke GSG untuk melanjutkan materi yang akan disampaikan pemateri selanjutnya. Kami pun mencari tempat duduk paling depan agar terfokus untuk mengikuti materi pada siang itu. Rasa semangat kami pun timbul lagi. 3 jam berlalu materi pun selesai, seluruh peserta OPAK pun diperintahkan menuju lapangan futsal untuk upacara sebelum pulang.Bererapa menit kemudian kami pun diperbolehkan untuk pulang.
3 hari berlalu tak terasa OPAK pun telah usai, akhirnya hari yang ku tunggu datang juga yaitu aku diresmikan menjadi mahasiswa STAIN Jurai Siwo Meto. Lelah yang ku rasakan selama menjalankan OPAK telah terbayar lunas. Tak hanya aku yang merasakan kebahagiaan ini, peserta OPAK yang lain pasti juga merasakan hal yang sama sepertiku.
Pucuk dicinta ulan pun tiba, mungkin itu peribahasa yang tepat untuk menggambarkan isi hatiku saat ini. Disinilah awal kisahku menjadi seorang mahasiswi Stain Jurai Siwo Metro dijurusan Ekonomi Islam yang selama ini aku tunggu-tunggu.
Siang itu, setelah aku sholat dzuhur aku bergegas untuk berangkat kuliah perdanaku ini. Seperti biasa aku berangkat dengan kendaraan kesayangku. dengan hati gembira walau matahari menyapa dengan teriknya yang menyengat tak membuatku mengurangi semangat ini.
Sesampainya di kampus aku berjalan menyusuri lorong-lorong untuk mencari lokalku. Lumayan lama ku mencari lokal, maklum saja, ini kali pertama aku menyusuri gedung sebelah timur kampus baru ku ini. Sesampainya di lokal, tak disangka aku bertemu dengan temanku di SMA, dia adalah Anisa, Anisa pun tidak menyangka bisa satu kelas lagi bersamaku. Aku pun menyapanya.
“Hay nis, gak nyangka kita satu kelas lagi?” tanyaku
“Hay juga wik, seneng deh bisa satu kelas lagi sama kamu.” jawab Anisa.
“Iya, aku juga seneng bisa ketemu kamu lagi.” kataku
Aku duduk tepat disamping Anisa, kamipun membicarakan Arganita dan Sendy.
“Nis, selama Opak aku bareng terusa sama Arganita sama Sendy, mereka dikelas mana ya kira-kira.” ujarku
“kok aku gak ketemu ya, coba aja kamu sms.” jawabnya
“Ya, udah coba aku sms dulu.” kataku (sambil mengeluarkan handphone dari tas)
Setelah aku sms Arganita dan Sendy akupun tahu dimana lokal mereka. Dan aku berniat untuk menemui mereka saat istirahat. Setelah selesai sms, aku pun melanjutkan obrolanku dengan Anisa. Tak terasa satu jam pun berlalu, seorang dosen mata kuliah pertama yang aku nantikan kehadirannya tak kunjung datang, dan rasa bosan pun mulai menyelimutiku. Dan ternyata dosen mata kuliah pertamaku memeng tak datnag.
Bel mata kuliah selanjutnya berbunyi, masuk seorang dosen pria dengan mengenakan kemeja coklat dan celana hitam lengkap dengan tas laptop yang ada di punggungnya. Setelah masuk di dalam kelas beliau memperkenalkan diri terhadap kami, beliau terlihat energik dan penuh semangat. Bapak yang akrab di panggil pak Imam, yang memiliki gaya rambut hitam klimis dengan tataan rapih, dan selalu berbicara cepat namun apa yang disampaikan mudah dimengerti oleh ku.
Setelah beliau memperkenalkan diri, beliau meminta kami untuk memperkenalkan diri satu per satu agar saling mengenal satu sama lain. Barisan pertama sebelah kanan memulai perkenalan, dengan menyebutkan nama, asal sekolah, dan tempat tinggal. Setelah selesai sampai barisan paling terakhir, perkenalan pun usai. Materi pertama yang beliau berikan mengenai Bahasa Indonesia yang selama ini sejak SD sampai sekarang dipelajari.
Dua jam berlalu pun terasa begitu singkat karena kami merasa nyaman ketika beliau menyampaikan materi dengan semangat dan lawakan yang sesekali beliau lontarkan kepada kami, tak sedikit mahasiswa yang tertawa terbahak karena nya.
Tak terasa waktu pun menyatakan bahwa jam mata kuliah bahasa Indonesia sudah selesai. Lalu beliaupun bergegas meninggalkan kelas. Tak lama kemudian adzan ashar berkumandan, aku dan Anisa pergi meniggalkan kelas menuju masjid untuk melaksanakan solat. Masjid yang kami gunakan untuk solat ini berada dipojok depan kanan kampus yang memang letaknya dekat sekali dengan kelas kami.
Masjid dengan cat tembok cream dengan paduan warna merah dan coklat terlihat begitu megah dan bersih, tak jarang teras yang ada di masjid menjadi tempat favorit mahasiswa untuk duduk membaca buku atau sekedar duduk saja, ada pula mahasiswi kakak tingkat yang berjualan kue dengan kotak transparan yan siap mengganjal perut yang lapar.
Tempat wudhu yang bersih dan terpisah dengan masjid membuat mahasiswi selalu nyaman. Pertama kali menginjak masjid Az-zikya ini aku merasa tenang dan menyukai suasananya. Aku dan Anisa memakai mukena yang memang disiapkan untuk mahasiswi. kemudian kami pun mengerjalakan solat berjamaah dengan khusuk.
Setelah selesai mendirikan sholat ashar, kami kembali ke lokal. Ditengah riuh gadung teman yang sedang asik dengan obrolan mereka aku dan Anisa membaca buku yang Anisa bawa, buku yang betemakan tentang isi surga ini membuatku semakin terbuka hati untuk memperbaiki diriku, diri ini yang masih jauh akan dari baik dalam artian aku masih melanggar perintah Allah, aku yang masih tidak taat dengan perintahnya.
Aku berharap dengan berteman dengan teman yang sholehah seperti Anisa ini mebuatku bisa kembali kejalan Allah dengan menaati perintahnya dan menjauhi laranganya, harapan ini semakin menyakinkan ketika Anisa memberikan ku nasehat, untuk merubah sikap semasa aku masih SMA, dengan sifat yang sesuka hati dalam melakukan sesuatu hal, tanpa mengetahui baik buruknya itu.
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa jam dinding yang berada di kelas menujukkan jam lima sore. Rizky Akmal yang tadi sudah didaulat sebagai ketua tingkat berusaha untuk menghubungi dosen yan akan masuk di kelas, ternyata dosen yang kami hubungi tidak ada jawaban, ia pun memutuskan untuk pulang. Teman-teman sekelas yang lain pun menyepakati hal tersebut, kami pun pulang.
Sesampai dirumah, sambil melepas lelah aku menceritakan hari pertamaku kuliah kepada ibuku. Ibuku memberikan nasehat kepadaku, agar aku tetap semangat dalam belajar agar cita-citaku bisa tercapai. Aku dengan senang hati menerima nasehat dari ibuku.
Pagi berikutnya yaitu hari ke dua kuliah, aku begitu semangat menuju kampus, aku yang masih asing di perkampusanku ini dengan sigap melangkahkan kakiku menuju ruang kelas. Sesampai di kelas aku bertemu dengan seorang mahasiswa yang satu kelas denganku, dia menyapaku dan mengajaku berkenalan, dia bernama Fery Anggriawan, dia terlihat lebih dewasa karena usianya 3 tahun lebih tua dariku. Tak berapa lama ada seorang mahasiswa menghampiri kami
“Sibuk apa ini?” Sapanya yang begitu asing menurutku
“Kenalin temen kita.” ucap Fery (dia menatapku, tatapannya nanar, membuatku semakin aneh, tapi kemudian senyumnya mengganti tatapan nanar itu)
“Hai, aku Fiktaj, nama kamu siapa?” sapanya padaku,
“Hai juga, aku Dwi.” jawabku
Kami bertiga ngobrol sampai akhirnya perutku terasa lapar dan mengajak mereka ke kantin. tapi saat dipintu, kami bertemu dengan seorang perempuan berjilbab lebar dan ternyata dia Anisa, tak lain adalah temanku.
“Nis, gabung kita yuk” sapaku
“Boleh.” jawabnya singkat
“Kenalin nis, ini Fiktaj dan Fery.” (aku menoleh ke arah Fiktaj dan Fery)
“Salam kenal ya.” sapa Fery
“Iya, sama-sama salam kenal juga ya…” jawab Anisa
”Ya udah, ke kantin sekarang aja yuk, udah laper nih..” ajakku
Kami pun berjalan menuju kantin. Sepanjang jalan menuju kantin kami melihat bangunan-bangunan kampus yang terlihat kokoh dengan arsitektur minimalis, Sesekali wajah ramah dari senior yang menyapa kami dengan senyuman tulus yang keluar dari raut wajahnya. Sesampai di kantin kami langsung memesan makanan dan minuman, sembari menunggu pesanan kami melanjutkan obrolan dan candaan yang ringan untuk memperetat awal pertemanan.
“Gimana nih awal-awal kuliah kalian?” tanya Fery
“Ternyata jadi anak kuliahan gak sesuliat yang aku bayangin, gimana kalau menurut kalian?” jawab Anisa yang kembali bertanya
“Ya, aku sependapat sama kamu nis, kamu sendiri gimana Fik?” jawabku dan akkupun kembali bertanya pada Fiktaj
“Ya sampai sejauh ini aku masih enjoy-enjoy aja kok,aku punya usul gimana kalau kita buat kelompok belajar, biar kita bisa lebih akrab lagi.” jawabnya dan memberi saran pada kami semua.
“Boleh, aku setuju tu sama pendapat Fiktaj.” jawab Fery.
Tak berapa lama makanan yang kami pesanpun tiba. Kami pun berhenti sejenak dari obrolan kami, dan melahap makanan tersebut. Suasana makan siang kali ini terasa lebih nikmat karena kami makan bersama-sama ditambah lagi es teh yang menemani makanan kami.
Selesai makan kami kembali ke lokal. Tak disangka didalam lokal dosen telah menunggu kami dan mahasiswa lain yang belum masuk, dengan perasaan malu kami masuk ke lokal kelas. Sesudah semua lengkap dosen pun memberikan materi kepada kami. Materi-materi yang beliau sampaikan dapat aku serap dengan baik karena saat di SMA aku pernah mempelajarniya, lain hal nya dengan teman-temanku yang lain, seperti Fiktja dan Fery, mereka terlihat cukup sulit untuk menerima pelajaran tersebut.
“Susah amat ya?” keluh Fiktaj.
“Iya, aku juga bingung.” sahut Fery.
Tak sengaja aku mendengar keluhan mereka berdua. Seusai materi dari dosen mata kuliah pengantar akuntansi. Aku dan Anisa pun menanggapi keluhan Fiktaj dan Fery, aku dan Anisa berinisiatif untuk belajar bersama di rumahku, mereka berdua menyetujuinya.
Tepat jam 7 malam tiba dirumah, Malam ini adalah malam perdana belajar dirumahku, jelas sekali antusias yang terlihat dari obrolan yang kami lakukan.
“Seru juga ya kumpul buat belajar bersama sama kalian.” kata Fery .
“Sering-sering aja kalian kayak gini buat nemenin aku ngobrol dirumah..hehehehe” tambahku
“Hmmm, itu si mau kamu Wik, tapi sayangnya aku gak dibolehin sering-sering keluar malem, ini aja Kalok gak di jemput aku gak ikut.” tambah Anisa
“Iyalah, aku juga gak enak sama tetanggaku, kalok tiap malem rumahku rame.” tambahku lagi
Fiktaj yang diam saja di kagetkan oleh Fery.
“Hayo, kamu kebelet ya, dari tadi diem aja? Hehehe.” gurau Fery.
“Apa-apaan si Fer, bikin malu aku aja,aku lagi serius ni belajar akuntansinya, bukannya kebelet,aku masih bingung belum ngerti juga nih,bukannya bantuin malah ngeledekin aku ..” jawab Fiktaj sedikit kesal
“Ya jangan nangis geh Fik, masih ada kita-kita kok disini.” Gurauku.
“Jangan bercanda mulu ah, bikin aku tamabah bingung aja..” jawab Fiktaj
“Udah lah jangan bercanda terus, nanti gak selsai-selesai lho belajar kita.” kata Anisa
“Iya deh maaf, aku kan cuma bercanda aja.” kata Fery meminta maaf pada Fiktaj
Fiktaj hanya mengangguk sambil menghela nafas. Belajar kami berlanjut hingga tidak tersa waktu sudah larut malam, dan mereka pamit pulang.
“Pulang ya wik sampai ketemu besok…” pamit mereka padaku.
“iya, ati-ati ya…” jawabku.
Merekapun pulang.
Keesokan harinya, saat aku Fiktaj dan Anisa di kampus, kami membicarakan tentang bagaimana rencana belajar kami yang selanjutnya. Pembicaraan semakin asik kami rasakan saat Fery datang.
“Seru banget lagi ngomongin apaan si?” Tanya Fery pada kami.
“Baru dateng kamu Fer?” tanyaku.
“Yoyoi…” jawabnya singkat.
Fiktaj dan Anisa hanya tersenyum mendengar jawaban Fery saat ku sapa. Kami melanjutkan perbincangan kami bersama dengan Fery. Sampai tak terasa ternyata bel masuk berbunyi. Kami berempat masuk ke lokal untuk mengikuti mata kuliah. Setelah berjam-jam kami belajar di dalam lokal, bel istirahat berbunyi. dengan perasaan senang kami keluar lokal.
“Akhirnya, keluar juga dari local.” Keluhkku.
“Iya, capek banget rasanya.” tambah Anisa.
“Tumben nis kamu ngeluh capek?” ejek Fery.
“Anisa juga kan manusia Fer..” jawab Fiktaj.
“Iya Fer, aku juga kan manusia, wajarlah kalok aku juga ngerasain capek.” tambah Anisa.
“Iya aku tau kamu juga manusia, tapi kan gak biasanya kamu ngeluh capek.” kata Fery lagi.
“Udah-udah kok malah berantem disini, perpus yuk, cari buku pelajaran tadi ini.” ujarku.
“Yuk..” kata Anisa.
“Tapi aku laper Wik, aku makan dulu ya, nanti aku nyusul sama Fery..” kata Fiktaj.
‘Iya Wik, aku juga laper nih, nanti kita berdua nyusul kalian.” tambah Fery.
“Ok deh kalok gitu.” Jawabku.
Aku dan Anisa jalan menuju perpustakaan. Kami berdua membaca buku di dalam Perpustakaan, tak lama kemudian datang Fiktaj dan Fery menghampiriku dan Anisa. Sampai akhirnya kami berempat belajar bersama di Perpustakaan. Tak terasa jam istirahat telah usai, kami semua kembali lagi ke lokal untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Waktu berlalu, bel pulang telah berbunyi, dengan perasaan senang kami keluar lokal menuju parkiran untuk mengambil motor. Sepanjang jalan menuju parkiran kami membicarakan rencana belajar selanjutnya.
“Gimana nih, besok mau belajar dirumahku lagi apa enggak?” tanyaku.
“ Kalok aku si terserah sama mereka aja, soalnya kan mereka yang jemput aku.” jawab Anisa.
“Ya kalok aku si liat sikon besok aja.” tambah Fiktaj.
“Iya aku juga liat sikon.” tambah Fery juga.
“Sip deh.” kataku.
Kamipun pergi meninggalkan kampus dan pulang kerumah masing-masing. Hari demi hari kulalui bersama mereka, yang selalu membantuku disaat aku susah dan selalu memberika dukungan agar aku menjadi lebih baik, Mereka yang menjadi tongkatku disaat aku tak mampu berjalan untuk menelusiri kehidupanku yang terkadang membuatku letih.
Sahabat, yang selama ini ku cari ku temukan juga, suatu ketika Anisa pernah berkata padaku “Sahabat sejati bukan hanya ada disaat senang dan sedih. Sahabat sejati bukan hanya bisa membantu ketika kita dalam masalah ataupun menjadi tempat curhat. Tapi, sahabat sejati pasti bisa menasehati saat kita dijalan yang salah, bukan membawa kita ke jalan yang salah. Dan juga bisa mengingatkanku untuk ingat kepada Allah, bukan melalaikan darinya.”
Diakhir tahun 2011 ketika aku mengikuti turnamen bulutangkis antar prodi dalam rangka harlah IMPOR (Ikatan Mahasiswa Pecinta Olahraga). Anisa selalu mendampingiku disaat aku bertanding, senang sekali rasanya ada pendukung yang selalu memberikan sorakan semangat saat aku dilapangan.
Hasilnya aku menjadi runner up single putri, aku satu satunya mahasiswi semester satu yang mendapat juara, sungguh kebanggan tersendiri buatku. Anisa, yang akrab ku panggil “cekgu”yang selalu ku ingat dan tersimpan di dalam hati ini, ia selalu mengajarkan betapa berharganya sebuah arti persahabatan dengan ukhuwah , karena persaudaraan segalanya akan menjadi indah.
Anisa adalah seorang wanita tegar yang didalam jiwanya penuh semangat muda, penuh keiikhlasan dalam menjalani hidupnya yang penuh dengan perjuangan yang luar biasa. Subbhanallah bagaikan menemukan jarum ditumpukkan jerami, aku bisa mendapatkan sahabat sepertinya. Teringat sebuah pesan singkat yang ia kirimkan kepadaku.
“Sahabat, suatu saat nanti matamu pasti akan melihat kekuranganku, suatu saat nanti telingamu pasti akan mendengar keburukanku, dan suatu saat nanti pasti hatimu akan tersakiti oleh sikapku. Inilah aku !. Aku bukan manusia sempurna maka dari itu, aku butuh kamu tegur aku bila salah nasehati aku bila keliri, isi kekeuranganku dengan kelebihanmu, begitu juga sebaliknya, biar kita saling melengkapi itulah sahabat sejati, jadi ku harap jangan pernah bosan dan menyesal mengenalku dan menjadi sahabatku”. Kuharap kata-kata itu menjadi perekat untuk sebuah persahabatan yang sudah kita jalani selama ini. Nasehat yang selalu ia berikan akan ku ingat dalam memori fikiranku agar aku bisa menjadi pribadi yang di ridhoi oleh Allah SWT. Amin
Lain halnya dengan Fiktaj, anak pertama dari empat bersaudara ini susah ditebak jalan pikirannya. Sosok yang satu ini selalu memotivasi aku, Anisa, Fery, dan teman sekelas lainnya. Ia adalah atlet silat di Metro, tak jarang dia memboyong trofi kejuaraan silat. Gaya bicaranya selalu tertata rapi saat presentasi.
Sahabat yang satu ini terkadang membuatku, Anisa, Fery kesal karena ia selalu sulit untuk dihubungi dalam keadaan darurat. Terkadang konyol sekali ketika dalam suasana santai saat berkumpul bersama, tingkah, dan gerak-geriknya membuat ku terpingkal-pingkal dibuatnya. Maka dari itu aku memanggilnya “gaje”.
Tak jauh beda dengan Fery, pribadi yang satu ini terkadang membuat leluconan yang tak disangka-sangka. Sering sekali ia ku jadikan sebagai sasaran objek untuk ku foto. Dibalik leluconnya ia menyimpan banyak pengalaman pahit kehidupan yang membuatkku empati padanya.
Fery adalah kakak bagi kami, yang selalu kami hormati dan kami jadikan ia saudara, itulah yang membuat kami memanggilnya “sekelek”. Kemampuannya dibidang Jurnalistik dan Komputer membuatnya selalu sibuk dan menyita waktunya, namun ia tetap semangat menjalani apa yang saat ini ditekuni.
Merekalah yang membuatku memiliki motivasi untuk terus maju menatap masa depan, walaupun banyak rintangan yang harus ku jalani saat ini. Merekalah harta terbaikku selain keluarga. Syukur allhamdulillah ku dapatkan sahabat-sahabat seperti mereka, pesan mereka yang akan selalu ku ingat, yang membuatku semangat menjalani hidup.
Pernah pada suatu hari aku merasakan betapa rapuhnya diriku, aku merasa minder dengan kekuranganku ini, Mereka tidak tinggal diam, mereka menasehatiku.
“Jangan pernah engkau mengira bahwa hatimu rapuh, hatimu tidak rapuh, hatimu sangat kuat dan sesungguhnya hatimu adalah sumber dari segala kekuatanmu, jika engkau merasa bahwa hatimu rapuh itu hanya karena sikapmu yang rapuh bukan hatimu. Ketahuilah bahwa kualitas sikapmu menentukan kwalitas dari apayang kau lihat, dengar dan yang kau rasa. Sehingga apapun yang kau sikapi dengan baik, makaakan mendapat perhatian yang lebih baik pula dari jiwamu.” Nasehat ini kan selalu ku ingat selamanya, agar aku tidak merasa betapa rapuhnya diriku ini.
Kelak jika kami telah memiliki kehidupan masing-masing ingin ku ceritakan pada dunia, bahwa aku bahagia memiliki sahabat seperti mereka. Semoga persahabatan yang sudah kami ikat ini, tak kan terlepas oleh waktu dan keadaan. Sampai maut memisahkannya. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar